Penjelasan tentang Thyristor - Yoo Bertemu lagi dengan saya di Website kesayangan kita semua ya di Elf Troubleshooter, Pada Artikel yang kamu baca kali ini dengan judul atau Header kwkwkw English Penjelasan tentang Thyristor, Saya telah membuat dan memberikan keterangan di artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan
Artikel Elelktro, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.
Judul : Penjelasan tentang Thyristor
link : Penjelasan tentang Thyristor
V = IGT(R)+Vbo+VGT = 120.7 V


1. Prinsip kerja Diac

Informasi artikel yang sedang anda baca Penjelasan tentang Thyristor Dengan Alamat atau Linknya https://elfcom.blogspot.com/2016/03/thyristor-berasal-dari-bahasa-yunani.html
Judul : Penjelasan tentang Thyristor
link : Penjelasan tentang Thyristor
Penjelasan tentang Thyristor
Thyristor berasal dari bahasa yunani, “pintu”. Diambil dari kata ini
kemungkinan karena sifatnya yang mirip dengan pintu. Thyristor terbuat
dari semikonduktor silikon. Namun ini berbeda dengan transistor bipolar
dan MOS karena P-N junction-nya lebih kompleks. Di samping itu,
fungsinya lebih digunakan sebagai saklar (switch) daripada sebagai
penguat arus atau tegangan.
Thyristor mempunyai struktur dasar empat layer PNPN. Jika dipilah, struktur ini terdiri dari junction PNP dan NPN yang disambung. Dengan kata lain, komponen ini terdiri dari dua transistor, PNP dan NPN yang saling dihubungkan pada kolektor dan basisnya.
Seperti yang kita ketahui bahwa IC = ß. IB, arus kolektor merupakan penguatan dari arus basis. Misal, arus sebesar IB yang mengalir pada basis transistor Q2, maka akan ada arus IB yang mengalir pada kolektor Q2. Arus kolektor ini merupakan arus basis IB pada transistor Q1, sehingga akan muncul penguatan pada arus kolektor transistor Q1. Arus kolektor transistor Q1 tidak lain adalah arus base bagi transistor Q2. Demikian seterusnya sehingga makin lama sambungan PN dari thyristor ini di bagian tengah akan mengecil dan hilang yang tertinggal hanyalah lapisan P dan N di bagian luar. Dalam keadaan ini, struktur ini merupakan struktur dioda PN (anoda-katoda) yang telah dikenal. Dengan demikian, thyristor dalam keadaan ON dan dapat mengalirkan arus layaknya dioda.
SCR
Untuk membuat thryristor dalam keadaan ON, dengan memberi arus trigger pada P yang dekat dengan katoda. Atau, ini dapat dilakukan dengan membuat kaki gate pada P yang dekat dengan katoda. Ini merupakan struktur dari SCR, yang dalam banyak literatur disebut thyristor saja.
KomponeN ini dapat ditrigger menjadi ON dengan memberi arus gate melalui pin gate. Dengan memberi arus gate Ig yang semakin besar dapat menurunkan tegangan breakover (Vbo) SCR. Tegangan ini merupakan tegangan minimum untuk membuat SCR dalam keadaan ON. SCR akan mudah menjadi ON sampai pada suatu besar gate tertentu, meski dengan tegangan forward kecil, 1 volt atau lebih kecil lagi.
Pada kuva SCR di atas, tampak tegangan Vbo. SCR dalam keadaan ON jika tegangan Forward SCR mencapai titik ini. Di samping itu, arus Ig dapat menurunkan Vbo menjadi lebih kecil lagi. Arus trigger dinotasikan IGT (gate trigger current), sedangkan Ih merupakan arus holding yang berfunsi mempertahankan SCR tetap ON. Sehingga, arus forward dari anoda yang menuju katoda harus berada di atas parameter ini agar SCR tetap ON. Dengan demikian, jika ingin SCR dalam keadaan OFF, maka arus anoda-katoda harus di bawah nilai Ih. Nilai Ih sendiri terdapat dalam datasheet. Hal ini sama dengan menurunkan tegangan anoda-katoda ke titik nol. Sehingga SCR atau thyristor pada umumnya tidak cocok untuk aplikasi DC. Sedangkan pada aplikasi tegangan AC, SCR dalam keadaan OFF saat gelombang tegangan AC di titik nol.
Tegangan trigger pada gate (VGT) juga dapat menyebabkan SCR menjadi ON. Atau, jika dalam model, tegangan ini adalah Vbe pada Q2. VGT seperti halnya Vbe, besarnya kira-kira 0.7 volt (bahan silikon).
Ig = Gate Current (arus gate) Ih = Holding Current (arus genggam)
Vbo = Breakover Voltage (tegangan breakover)
VGT = Gate Trigger Voltage (tegangan pemicuan gate)
IGT = Gate Trigger Current (arus pemicuan gate)
TRIAC
SCR dapat dikatakan thyristor uni-directional (satu arah), ini karena ketika ON hanya dapat melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju katoda. Sebenarnya, struktur TRIAC sama dengan dua buah SCR yang arahnya bolak-balik dan kedua gate-nya disatukan. TRIAC biasa juga disebut thyristor bi-directional.
Kerja TRIAC mirip dengan SCR yang paralel bolak-balik sehingga dapat mengalirkan arus dua arah. Untuk kurvanya:
Pada datasheet akan lebih detail diberikan besar parameter-parameter seperti Vbo dan -Vbo, lalu IGT dan -IGT, Ih serta -Ih dan sebagainya. Umumnya besar parameter ini simetris antara yang plus dan yang minus. Dalam perhitungan desain, bisa dianggap parameter ini simetris sehingga lebih mudah di hitung.
DIAC
DIAC, jika dilihat dari strukturnya, bukan termasuk thyristor. Namun, prinsip kerjanya membuat DIAC digolongkan sebagai thyristor. Struktur DIAC mirip dengan transistor PNP. Perbedaannya, Lapisan N pada transistor dibuat tipis agar mudah dilewati elektron. Sedangkan pada DIAC, lapisan N dibuat lebih tebal agar elektron sulit melewatinya. DIAC lebih mirip dengan dioda PN dan NP. Sehingga, DIAC digolongkan sebagai dioda pada beberapa literatur.
DIAC dimaksudkan agar sukar dilewati arus. DIAC dapat menghantarkan arus dengan tegangan breakdown tertentu. Arus ini tentu saja dapat bola-balik dari anoda-katoda, dan sebaliknya. Untuk kurva karakteristiknya sama dengan TRIAC. Namun nilai tegangan breakdown perlu diketahui.
Umumnya, DIAC digunakan sebagai pemicu TRIAC agar ON pada tegangan masukan yang relatif tinggi. Contoh aplikasinya adalah dimmer lampu.
Thyristor mempunyai struktur dasar empat layer PNPN. Jika dipilah, struktur ini terdiri dari junction PNP dan NPN yang disambung. Dengan kata lain, komponen ini terdiri dari dua transistor, PNP dan NPN yang saling dihubungkan pada kolektor dan basisnya.
Seperti yang kita ketahui bahwa IC = ß. IB, arus kolektor merupakan penguatan dari arus basis. Misal, arus sebesar IB yang mengalir pada basis transistor Q2, maka akan ada arus IB yang mengalir pada kolektor Q2. Arus kolektor ini merupakan arus basis IB pada transistor Q1, sehingga akan muncul penguatan pada arus kolektor transistor Q1. Arus kolektor transistor Q1 tidak lain adalah arus base bagi transistor Q2. Demikian seterusnya sehingga makin lama sambungan PN dari thyristor ini di bagian tengah akan mengecil dan hilang yang tertinggal hanyalah lapisan P dan N di bagian luar. Dalam keadaan ini, struktur ini merupakan struktur dioda PN (anoda-katoda) yang telah dikenal. Dengan demikian, thyristor dalam keadaan ON dan dapat mengalirkan arus layaknya dioda.
SCR
Untuk membuat thryristor dalam keadaan ON, dengan memberi arus trigger pada P yang dekat dengan katoda. Atau, ini dapat dilakukan dengan membuat kaki gate pada P yang dekat dengan katoda. Ini merupakan struktur dari SCR, yang dalam banyak literatur disebut thyristor saja.
KomponeN ini dapat ditrigger menjadi ON dengan memberi arus gate melalui pin gate. Dengan memberi arus gate Ig yang semakin besar dapat menurunkan tegangan breakover (Vbo) SCR. Tegangan ini merupakan tegangan minimum untuk membuat SCR dalam keadaan ON. SCR akan mudah menjadi ON sampai pada suatu besar gate tertentu, meski dengan tegangan forward kecil, 1 volt atau lebih kecil lagi.
Pada kuva SCR di atas, tampak tegangan Vbo. SCR dalam keadaan ON jika tegangan Forward SCR mencapai titik ini. Di samping itu, arus Ig dapat menurunkan Vbo menjadi lebih kecil lagi. Arus trigger dinotasikan IGT (gate trigger current), sedangkan Ih merupakan arus holding yang berfunsi mempertahankan SCR tetap ON. Sehingga, arus forward dari anoda yang menuju katoda harus berada di atas parameter ini agar SCR tetap ON. Dengan demikian, jika ingin SCR dalam keadaan OFF, maka arus anoda-katoda harus di bawah nilai Ih. Nilai Ih sendiri terdapat dalam datasheet. Hal ini sama dengan menurunkan tegangan anoda-katoda ke titik nol. Sehingga SCR atau thyristor pada umumnya tidak cocok untuk aplikasi DC. Sedangkan pada aplikasi tegangan AC, SCR dalam keadaan OFF saat gelombang tegangan AC di titik nol.
Tegangan trigger pada gate (VGT) juga dapat menyebabkan SCR menjadi ON. Atau, jika dalam model, tegangan ini adalah Vbe pada Q2. VGT seperti halnya Vbe, besarnya kira-kira 0.7 volt (bahan silikon).
Ig = Gate Current (arus gate) Ih = Holding Current (arus genggam)
Vbo = Breakover Voltage (tegangan breakover)
VGT = Gate Trigger Voltage (tegangan pemicuan gate)
IGT = Gate Trigger Current (arus pemicuan gate)
TRIAC
SCR dapat dikatakan thyristor uni-directional (satu arah), ini karena ketika ON hanya dapat melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju katoda. Sebenarnya, struktur TRIAC sama dengan dua buah SCR yang arahnya bolak-balik dan kedua gate-nya disatukan. TRIAC biasa juga disebut thyristor bi-directional.
Kerja TRIAC mirip dengan SCR yang paralel bolak-balik sehingga dapat mengalirkan arus dua arah. Untuk kurvanya:
Pada datasheet akan lebih detail diberikan besar parameter-parameter seperti Vbo dan -Vbo, lalu IGT dan -IGT, Ih serta -Ih dan sebagainya. Umumnya besar parameter ini simetris antara yang plus dan yang minus. Dalam perhitungan desain, bisa dianggap parameter ini simetris sehingga lebih mudah di hitung.
DIAC
DIAC, jika dilihat dari strukturnya, bukan termasuk thyristor. Namun, prinsip kerjanya membuat DIAC digolongkan sebagai thyristor. Struktur DIAC mirip dengan transistor PNP. Perbedaannya, Lapisan N pada transistor dibuat tipis agar mudah dilewati elektron. Sedangkan pada DIAC, lapisan N dibuat lebih tebal agar elektron sulit melewatinya. DIAC lebih mirip dengan dioda PN dan NP. Sehingga, DIAC digolongkan sebagai dioda pada beberapa literatur.
DIAC dimaksudkan agar sukar dilewati arus. DIAC dapat menghantarkan arus dengan tegangan breakdown tertentu. Arus ini tentu saja dapat bola-balik dari anoda-katoda, dan sebaliknya. Untuk kurva karakteristiknya sama dengan TRIAC. Namun nilai tegangan breakdown perlu diketahui.
Umumnya, DIAC digunakan sebagai pemicu TRIAC agar ON pada tegangan masukan yang relatif tinggi. Contoh aplikasinya adalah dimmer lampu.
Jika IGT TRIAC diketahui sebesar 10 mA dan VGT=0,7 volt, sedangkan Vbo DIAC sebesar 20 V, maka TRIAC akan ON pada:
V = IGT(R)+Vbo+VGT = 120.7 V
Biasanya, Resistor R pada rangkaian dimmer
diganti dengan rangkaian seri resistor dan potensiometer. Kapasitor C
dengan rangkaian R digunakan untuk menggeser fasa tegangan VAC. Lampu
dapat menyala redup dan terang bergantung kapan TRIAC dipicu.
Istilah Thyristor berasal dari tabung
Thyratron-Transistor, dimana dengan perkembangan teknologi
semikonduktor, maka tabung-tabung elektron yang bentuknya relatip besar
dapat digantikan oleh tabung-tabung transistor yang berukuran jauh lebih
kecil tanpa mengurangi kemampuan operasionalnya. Yang termasuk dalam
keluarga thyristor adalan Silicon Controlled Rectifier, Diac, Triac yang
semuanya didasari dari Dioda Lapis Empat (Four Layers Diode). Bahan
dasar thyristor ini adalah dari silicon dengan pertimbangan jauh lebih
tahan panas dibandingkan dengan bahan germanium. Thyristor ini banyak
digunakan sebagai alat pengendali tegangan atau daya yang tinggi dengan
kemampuan yang tinggi.
SILICON CONTROLLED RECTIFIER ( SCR )
Silicon Controlled Rectifier disingkat SCR
dirancang untuk mengendalikan daya ac hingga 10 MW dengan rating arus
sebesar 2000 amper pada tegangan 1800 volt dan frekuensi kerjanya dapat
mencapai 50 kHz. Tahanan konduk dinamis suatu SCR sekitar 0,01 sampai
0,1 ohm sedangkan tahanan reversenya sekitar 100.000 ohm atau lebih
besar lagi.
Konstruksi dasar dan simbolnya
SCR
mempunyai tiga buah elektroda, yaitu Anoda, Kathoda dan Gate dimana
anoda berpolaritas positip dan kathoda berpolaritas negatip sebagai
layaknya sebuah dioda penyearah (rectifier). Kaki Gate juga berpolaritas
positip. Gambar dibawah ini memperlihatkan pengembangan konstruksi dan
diekuivalenkan dengan rangkaian kaskade transistor.
1. Penyulutan SCR
SCR dapat dihidupkan dengan arus penyulut singkat melalui
terminal Gate, dimana arus gate ini akan mengalir melalui junction
antara gate dan kathoda dan keluar dari kathodanya. Arus gate ini harus
positip besarnya sekitar 0,1 sampai 35 mA sedangkan tegangan antara gate
dan kathodanya biasanya 0,7 volt.
Jika arus anoka ke kathoda turun dibawah nilai minimum (Holding
Current = IHO), maka SCR akan segera mati (Off). Untuk SCR yang
berkemampuan daya sedang, besar IHO sekitar
10 mA. Tegangan maksimum arah maju (UBRF) akan terjadi jika gate dalam
keadaan terbuka atau IGO = 0. Jika arus gate diperbesar dari IGO, misal
IG1, maka tegangan majunya akan lebih rendah lagi.
Gambar dibawah ini memperlihatkan salah satu cara penyulutan SCR
dengan sumber searah (dc), dimana SCR akan bekerja dengan indikasi
menyalanya lampu dengan syarat saklar PB1 dan PB2 di ON kan terlebih
dahulu.
Triggering untuk penyulutan SCR dengan sumber dc ini
tidak perlu dilakukan secara terus menerus, jika saklar PB1 dibuka, maka
lampu akan tetap menyala atau dengan perkataan lain SCR tetap bekerja. Dibawah ini Memperlihatkan cara penyulutan SCR dengan sumber bolak-balik (ac).

Dengan mengatur nilai R2 (potensiometer), maka kita seolah mengatur sudut penyalaan (firing delay) SCR. Untuk
penyulutan SCR dengan sumber arus bolak-balik, harus dilakukan secara
terus menerus, jadi saklar S jika dilepas, maka SCR akan kembali tidak
bekerja.
Gambar dibawah ini memperlihatkan bentuk tegangan dan pada terminal SCR dan beban. Pengendalian sumber daya dengan SCR terbatas hanya dari 00 sampai 900.

2. Pengujian SCR
Kondisi
SCR dapat diuji dengan menggunakan sebuah ohmmeter seperti layaknya
dioda, namun dikarenakan konstruksinya pengujian SCR ini harus dibantu
dengan penyulutan kaki gate dengan pulsa positip. Jadi dengan menghubung
singkat kaki anoda dengan gate, kemudian diberikan sumber positip dari
meter secara bersama dan katoda diberi sumber negatipnya, maka akan
tampak gerakan jarum ohmmeter yang menuju nilai rendah penunjukkan ohm
dan kondisi ini menyatakan SCR masih layak digunakan. Sedangkan jika
penunjukkan jarum menunjuk pada nilai resistansi yang tinggi, maka
dikatakan kondisi SCR menyumbat atau rusak.
DIAC
Istilah
diac diambil dari Dioda AC yang merupakan salah satu dari keluarga
thyristor dan termasuk dalam jenis Bidirectional Thyristor. Diac
mempunyai dua buah elektroda atau terminal dan dapat menghantar dari
kedua arah oleh karenanya diac dianggap sebagai
homo atau non-polar. Diac tersusun dari empat lapis semikonduktor
seperti dioda lapis empat. Gambar ini memperlihatkan ekuivalen dan
simbol diac.

1. Prinsip kerja Diac
Diac
mempunyai impedansi yang tinggi dalam dua arah,guna mencapai titik
konduknya diperlukan tegangan antara 28 sampai 36 volt. Kita perhatikan
gambar a diatas, jika tegangan diberikan pada diac menyamai atau
melebihi tegangan konduknya, maka salah satu saklar akan menutup,
demikian sebaliknya untuk kondisi yang sama salah satu saklarnya juga
akan menutup.
2. Identifikasi Diac
Karena
homopolar, maka untuk menentukan kaki diac adalah sama saja baik yang
kiri maupun yang kanan. Bentuk fisiknya menyerupai dioda rectifier
dengan ciri-ciri seperti yang digambarkan ini.
Sistem pengkodeannya tergantung dari pabrik pembuatnya, sebagai
contoh Motorola mengeluarkan tipe 1N5758 sampai 1N5761 sedangka
PhilipsAustralia mengeluarkan tipe BR100.
3.Penggunaan Diac dalam rangkaian
Piranti
Diac banyak digunakan sebagai pemicu rangkaian pengendali daya,
misalnya pemicu TRIAC. Gambar dibawah ini memperlihatkan salah satu
contoh rangkaian yang melibatkan Diac.

TRIAC
Triac
dipersiapkan untuk mengendalikan daya bolak-balik secara penuh dari 0o
hingga 180o. Triac mempunyai tiga elektroda mirip dengan SCR, namun
Triac dapat menghantarkan arus dalam dua arah. Simbol dan konstruksi
Triac diperlihatkan seperti pada gambar dibawah ini.

1. Penyulutan Triac
Gambar
berikut memperlihatkan metoda penyulutan Triac secara sederhana, dimana
pada rangkaian tersebut kapasitor C akan mengisi muatannya lewat R1 dan
R2 setiap setengah perioda.
Selama setengah perioda positip, MT2 akan akan lebih positip
dari MT1, sehingga pelat atas kapasitor akan bermuatan positip. Jika
tegangan pada kapasitor muncul hingga mencapai harga yang mencukupi
untuk pemenuhan arus gate, maka Triac akan ON. Kecepatan pengisian
kapasitor diatur oleh potensiometer R2, dimana jika hambatannya besar,
maka pengisiannya akan lambat sehingga terjadi penundaan penyalaan. Jika
nilai R2 kecil, maka pengisian kapasitor akan lebih cepat dan arus yang
mengalir ke beban akan tinggi. Metoda lain adalah dengan melibatkan
piranti Diac seperti terlihat pada gambar dibawah ini. dimana sering
terdapat Triac yang dikemas bersama Diac dalam satu chip dan dikenal
dengan nama Quadrac.
Keyword Untuk: Penjelasan tentang Thyristor, Download Penjelasan tentang Thyristor, Download film Penjelasan tentang Thyristor, Download Movie Penjelasan tentang Thyristor, Download Penjelasan tentang Thyristor 360p 480p 720p HD-RIP, Download Penjelasan tentang Thyristor Blue-RAY, Unduh Penjelasan tentang Thyristor , Sinopsis Penjelasan tentang Thyristor , Review Penjelasan tentang Thyristor , Download Soundtrack Penjelasan tentang Thyristor , Download Film Penjelasan tentang Thyristor WEBDL HDTS WEBDL DVDRIP 1080p , Download Penjelasan tentang Thyristor 360p 480p 720p HD-RIP Solidfiles Zippyshare Google Drive Userclouds Daily uploads Uppit Tusfiles
Udah semua nih gan dan sis dan Demikianlah Artikel Penjelasan tentang Thyristor
dan semoga Penjelasan tentang Thyristor ini berhasi;, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Informasi artikel yang sedang anda baca Penjelasan tentang Thyristor Dengan Alamat atau Linknya https://elfcom.blogspot.com/2016/03/thyristor-berasal-dari-bahasa-yunani.html
Tag :
Elelktro











0 Komentar untuk "Penjelasan tentang Thyristor"